AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman: Retak Hubungan Trump-Mertz & Sinyal Bahaya NATO

WASHINGTON – Amerika Serikat mengumumkan penarikan 5.000 personel militernya dari Jerman dalam 6-12 bulan ke depan. Keputusan Pentagon ini datang di tengah memanasnya hubungan antara Presiden Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Mertz, serta memicu kekhawatiran serius tentang masa depan komitmen AS di NATO.
Keputusan Mendadak yang Mengejutkan Pentagon
Sumber internal di Washington mengungkapkan bahwa Departemen Pertahanan AS (Pentagon) terkejut dengan pengumuman ini. Bahkan, beberapa pejabat dilaporkan "syok" membaca rencana yang beredar di media. Hanya beberapa hari sebelumnya, Trump masih berspekulasi tentang "review" dan pengumuman yang akan datang.
Peter Bose, koresponden BBC News di Amerika Utara, melaporkan bahwa keputusan ini diambil sangat cepat. Dari 36.000 pasukan AS yang saat ini bertugas di Jerman – jumlah terbanyak di Eropa – sekitar 14% akan ditarik. Ini adalah pengurangan signifikan yang mengirim sinyal kuat ke sekutu NATO.
Konflik Trump vs Mertz: Pemicu Utama?
Langkah ini tidak bisa dipisahkan dari perselisihan pribadi antara Trump dan Mertz. Beberapa hari sebelum pengumuman, Trump menelepon Mertz dan mengatakan bahwa kanselir Jerman itu "melakukan pekerjaan yang mengerikan."
Kritik Mertz terhadap strategi AS semakin tajam dalam beberapa hari terakhir. Ia menyatakan bahwa Washington "dipermalukan" oleh negosiator Iran dalam perundingan terkait konflik di Timur Tengah. Mertz juga mengkritik pendekatan AS dalam perang yang sedang berlangsung, serta memperingatkan implikasi ekonomi dari konflik tersebut sejak awal.
"Bahasa Mertz menjadi jauh lebih kritis belakangan ini, dan itu tampaknya benar-benar menyentuh saraf Trump," ujar Bose dalam laporannya.
Tuntutan Trump: NATO Harus Bayar Lebih
Namun, konflik pribadi ini hanyalah puncak gunung es. Profesor Daniel Trezmann dari UCLA menjelaskan bahwa penarikan pasukan ini sesuai dengan strategi jangka panjang Trump: menekan Eropa untuk membayar lebih banyak bagi pertahanan mereka sendiri.
"Trump telah berbicara untuk beberapa waktu tentang mengurangi pasukan AS di Eropa. Ini bagian dari strateginya untuk memaksa Eropa menyediakan lebih banyak amunisi, personel, dan anggaran pertahanan," jelas Trezmann.
Sebagai konteks, negara-negara NATO telah berjanji mengalokasikan 5% PDB untuk pertahanan (termasuk 1,5% untuk infrastruktur). Namun, implementasinya dianggap terlalu lambat oleh Trump.
Target Lebih Luas: Spanyol dan Italia dalam Sorotan
Jerman bukan satu-satunya target. Trump juga menyerang sekutu NATO lainnya seperti Spanyol dan Italia karena dianggap tidak memberikan dukungan memadai – khususnya dalam operasi membuka Selat Hormuz yang sedang bergolak.
Ketika ditanya apakah ia akan mempertimbangkan penarikan pasukan dari negara-negara tersebut, Trump tidak memberikan jawaban pasti. Namun, ia terbuka terhadap kemungkinan itu. Skenario penarikan pasukan yang lebih luas dari Eropa tentu akan memicu kekhawatiran serius di seluruh benua tentang komitmen Amerika terhadap NATO.
Timing yang Buruk: Ancaman Rusia di Perbatasan Timur
Yang mengkhawatirkan, penarikan ini terjadi di saat perbatasan timur NATO sedang dalam kondisi tidak pasti. Profesor Trezmann memperingatkan bahwa langkah ini mengirim "sinyal yang mengerikan" ketika Eropa Timur menghadapi potensi serangan hibrida atau bahkan agresi lebih besar dari Rusia.
"Eropa sebenarnya sudah mulai berinvestasi lebih besar untuk pertahanan mereka. Tapi ini terjadi lebih cepat dari yang diantisipasi. Pertahanan di perbatasan timur NATO belum jelas seberapa kuat," ujarnya.
Respons Jerman & Eropa: Antara Kecewa dan Persiapan
Menanggapi keputusan ini, pemerintah Jerman dan negara-negara Eropa lainnya diperkirakan akan:
- ✅ Mempercepat rencana pertahanan mandiri – Investasi militer Eropa harus dipercepat
- ✅ Diplomasi intensif dengan Washington – Upaya meredakan ketegangan dengan Trump
- ✅ Koordinasi NATO yang lebih erat – Memastikan komitmen kolektif tidak runtuh
- ✅ Evaluasi ulang ketergantungan pada AS – Eropa harus lebih mandiri secara militer
Konteks Lebih Besar: Perang Dingin Baru?
Keputusan ini mencerminkan realitas geopolitik yang berubah. Di bawah kepemimpinan Trump, AS semakin transaksional dalam aliansinya. NATO, yang selama puluhan tahun menjadi pilar keamanan Barat, kini dipertanyakan kembali.
Eropa menghadapi dilema besar: apakah mereka harus meningkatkan belanja militer secara drastis untuk memenuhi tuntutan Trump, atau mencari alternatif strategis di luar payung keamanan Amerika?
Penutup: Sinyal Bahaya bagi Stabilitas Global
Penarikan 5.000 pasukan AS dari Jerman bukan sekadar angka. Ini adalah pesan politik yang jelas: era kepatuhan buta Eropa terhadap Washington telah berakhir. Trump menuntut hasil nyata, bukan sekadar aliansi simbolis.
Bagi Jerman dan Eropa, ini adalah momen kebenaran. Mereka harus memilih antara kemandirian strategis atau tetap bergantung pada AS yang semakin tidak terduga.
Apakah ini awal dari keruntuhan NATO, atau justru momentum bagi Eropa untuk berdiri di kaki sendiri? 🌍
(Editor: Redaksi SF Media)
💬 Komentar Pembaca
Tulis Komentar Anda
💬 Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!


