Viral

Suara Muslim di Inggris: Ancaman Demokrasi atau Mitos Islamofobia?

08 May 2026, 06:50 8 views Dibaca 5 menit
Suara Muslim di Inggris: Ancaman Demokrasi atau Mitos Islamofobia?

LONDON – Narasi tentang "blok pemilih Muslim" yang mengancam demokrasi Inggris mencapai puncaknya saat pemilihan sela Gorton dan Denton. Kemenangan bersejarah Partai Hijau memicu retorika politik paling memecah belah dalam beberapa tahun terakhir.

Kemenangan Hannah Spencer & Tuduhan Sektarianisme

Hannah Catherine Spencer dari Partai Hijau memenangkan pemilihan sela di Gorton dan Denton, Manchester. Kemenangan ini disebut-sebut sebagai hasil dari "voting sektarian" atau suara Muslim yang terkoordinasi.

"Ini adalah awal dari politik sektarian di negara ini. Saya merasa khawatir," ujar seorang pengamat. Tuduhan family voting atau voting berdasarkan komunitas menggema di berbagai media.

Spencer menolak narasi tersebut. "Kami menjalankan kampanye yang menjangkau banyak orang yang kecewa dengan politik. Kami bukan satu kelompok monolitik," tegasnya.

Realita di Lapangan: Keragaman Pilihan Politik

Investigasi di lapangan menunjukkan fakta berbeda. Komunitas Muslim di Gorton dan Denton ternyata sangat beragam dalam pilihan politik mereka.

"Saya kenal orang yang dukung Partai Hijau, ada yang dukung Tories, dan beberapa dukung Reform," kata seorang warga. Mereka tidak voting sebagai satu blok.

Isu lokal menjadi prioritas utama: kenaikan sewa, biaya hidup, layanan publik yang menurun. Bukan hanya soal Gaza atau isu internasional lainnya.

Gelombang Kandidat Independen di Birmingham

Di Birmingham, sekitar 70 calon independen didukung oleh Ahmed Yakub, seorang pengacara TikTok. Pada pemilu 2024, Yakub hampir mengalahkan kandidat Partai Buruh Shabana Mahmud dengan meraih 69.000 suara.

"Pemilih Muslim merasa dikhianati Partai Buruh. Bukan hanya soal Gaza, tapi juga NHS, tunawisma, pengemis di jalanan," kata Yakub.

Namun Yakub dan beberapa kandidat independennya kontroversial. Yakub didakwa pencucian uang dan ditangkap karena dugaan pelanggaran ketertiban publik bermotif rasial. Salah satu kandidatnya pernah dihukum karena terorisme di Yaman, meski Amnesty International menyebut itu pengadilan palsu.

Kritik terhadap Partai Hijau & Isu LGBT

Kandidat independen Muslim juga menyerang Partai Hijau karena kebijakan liberal mereka. Isu legalisasi narkoba dan hak trans menjadi titik kritik.

"Partai Hijau ingin membawa generasi muda ke jalur narkoba, seks, dan kemerosotan," ujar seorang kandidat. Video Zack Polanski menari di acara anti-rasis memicu kemarahan.

Mereka juga menolak kebijakan self-identification gender. "90% pemilih di sini tidak akan senang dengan hukum identitas gender itu," kata seorang aktivis.

Tuduhan Anti-Semitisme & "Zionis Establishment"

Yakub dituduh anti-Semitisme karena mendukung narasi bahwa lobi Zionis mengontrol politik Inggris. Ia menyebut ada pengaruh Zionis yang membuat politisi Inggris tidak berani mengkritik pemerintah Israel.

"Mengapa mereka bisa mengkritik perlawanan di Palestina, tapi tidak bisa mengkritik pemerintah Israel?" tanyanya.

Islamofobia Meningkat: Serangan ke Masjid Manchester

Dua hari sebelum pemilihan sela, seorang pria membawa pisau, kapak, dan palu ke Manchester Central Mosque. Insiden ini menunjukkan dampak nyata retorika anti-Muslim.

"Orang-orang terrified. Ada rasa tidak aman yang meningkat," kata seorang pengurus masjid. Mereka mengadakan acara iftar terbuka untuk membangun pemahaman antar komunitas.

Penurunan Layanan Publik & Kekecewaan Pemilih

Di Birmingham, masalah sampah yang tidak terangkut lebih dari satu tahun menjadi simbol penurunan layanan publik. Jalan berlubang, marka jalan yang hilang, dan fasilitas umum yang terbengkalai.

"Ini sudah 14 tahun Partai Buruh berkuasa. Jika Anda lihat penurunan di sekitar Anda, Anda akan menyalahkan orang yang berkuasa," kata seorang warga.

Pemilih yang sebelumnya setia pada Partai Buruh mulai berpaling. "Saya tidak akan vote Buruh lagi. Mereka tidak mendengarkan," kata seorang mantan pendukung Buruh.

Generasi Muda Muslim & Kampanye Digital

Generasi muda Muslim mencoba pendekatan berbeda. Mansour, 18 tahun, mencalonkan diri sebagai independen menggunakan TikTok untuk kampanye.

"Banyak yang tidak percaya pada saya. Mereka bilang saya terlalu muda, tidak berpengalaman. Tapi saya mencoba tackle masalah untuk semua orang," ujarnya.

Abdi Malik, relawan muda, membersihkan sampah di jalanan dan mempostingnya di media sosial. Ia menerima komentar rasis di platform X. "Terkadang sedih, tapi saya terus lakukan apa yang saya lakukan," katanya.

Reform UK & Suara Kelas Pekerja

Partai Reform UK mendapat 10.000 suara di Gorton dan Denton meski tidak menang. Mereka dianggap sebagai suara anti-establishment.

"Saya bertemu satu pemilih Reform pagi ini. Kami mengobrol dengan baik. Saya mengerti mengapa mereka vote untuk Reform karena perjuangan yang dihadapi masyarakat sangat jelas," kata Spencer.

Komunitas Terpecah & Perlunya Dialog

Media sosial memperdalam perpecahan. "Teman-teman yang saya besarkan bersama sekarang blasting soal boats (kapal pengungsi) di Facebook. Kemanusiaan hilang," kata seorang warga.

"Saya tahu saya tidak ingin mereka di sini, tapi saya juga tidak ingin ada yang di-lynch. Ini sangat menyedihkan."

Warga berharap ada lebih banyak ruang untuk dialog antar komunitas. "Kita perlu lebih banyak spaces di mana orang bisa bicara satu sama lain," kata mereka.

Kesimpulan: Bukan Ancaman, Tapi Suara yang Kecewa

Investigasi ini tidak menemukan bukti adanya blok pemilih Muslim yang monolitik. Yang ada adalah kekecewaan yang sama dengan pemilih kelas pekerja lainnya.

Muslim di Inggris voting berdasarkan nilai pribadi, isu lokal, dan kekecewaan pada partai mainstream. Mereka menghadapi Islamofobia yang meningkat akibat retorika politisi yang memecah belah.

"Muslim voters sering dibicarakan tapi tidak diajak bicara. Jika politisi lebih banyak mendengarkan, mereka akan sadar kami tidak berbeda dari kelompok lain," pungkas seorang warga.

📊 Fakta Kunci: Hannah Spencer (Partai Hijau) menang di Gorton & Denton | Ahmed Yakub dapat 69.000 suara sebagai independen | 70 calon independen di Birmingham | Reform UK dapat 10.000 suara | Serangan ke Manchester Central Mosque 2 hari sebelum pemilu | Peningkatan hate crime & Islamophobia

Sumber: The Guardian - "The Muslim Vote: Democratic threat or Islamophobic myth? | On the Ground". Laporan investigasi dari Gorton, Denton, Manchester & Birmingham. Artikel disusun ulang secara jurnalistik oleh redaksi.

📰 Berita Terkait

💬 Komentar Pembaca

Tulis Komentar Anda

💬 Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!