Viral

China, Iran, dan Trump: Pergeseran Kekuatan Global Menuju Tatanan Dunia Baru

08 May 2026, 06:20 10 views Dibaca 4 menit
China, Iran, dan Trump: Pergeseran Kekuatan Global Menuju Tatanan Dunia Baru

BEIJING – China semakin memposisikan diri sebagai aktor sentral dalam upaya meredam eskalasi konflik Iran. Beijing menjadi penopang ekonomi terbesar Teheran. Diplomasi China mengemuka di tengah krisis Teluk yang berkepanjangan.

China: Penopang Ekonomi Iran

Sebelum perang, China membeli sebagian besar minyak Iran yang terkena sanksi. Langkah ini membantu menjaga ekonomi Iran tetap bertahan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berkunjung ke Beijing pekan ini.

Iran mencari dukungan berkelanjutan dari China. Tekanan internasional semakin meningkat agar Iran membuka kembali Selat Hormuz. Stabilitas pasar energi global menjadi taruhan.

Pertemuan Trump-Xi Pekan Depan

Beijing akan menjadi tuan rumah pihak lain dalam konflik ini. Donald Trump dijadwalkan tiba pekan depan untuk talks dengan Presiden Xi Jinping. Pemerintahan Trump mendesak China menggunakan pengaruhnya terhadap Iran.

"China selalu percaya kedaulatan dan integritas teritorial negara-negara Timur Tengah harus dihormati," ujar pejabat China. Target mendesak: implementasi ceasefire komprehensif segera.

China Berjalan di Atas Garis Tipis

Kelly Grieco, Senior Fellow di Stimson Center, memberikan analisis mendalam. China secara efektif memihak, tapi dengan batasan jelas. Dukungan diplomatik dan komponen dual-use untuk drone Iran dilaporkan terus mengalir.

"Namun China juga memberi sinyal batasan dukungan," kata Grieco. Bank-bank China diperintahkan tidak memberikan pinjaman baru untuk fasilitas minyak Iran. Beijing berjalan di atas garis tipis.

China Diuntungkan oleh Konflik

Di balik retorika de-eskalasi, China secara quiet mendapat keuntungan. Cadangan minyak dalam negeri China cukup besar. Tapi itu tidak bertahan selamanya. China tidak menyukai ketidakstabilan di kawasan.

China memposisikan diri sebagai pemain konstruktif. Negara-negara Asia terkena dampak berat penutupan Selat Hormuz. China mengumumkan larangan ekspor minyak awal konflik, tapi tidak lengkap.

"Mereka memberikan keringanan ke negara-negara seperti Vietnam dan Australia," ungkap Grieco. China membangun citra sebagai negara dengan solusi.

Pelajaran untuk Skenario Taiwan

Beijing belajar banyak dari perang ini. Kerentanan militer AS tervalidasi. Tulisan militer China extensively membahas kerentanan pangkalan udara AS.

"Critical enablers seperti aerial refueling tankers dan early warning aircraft jadi target," jelas Grieco. China well aware tentang limitasi interceptor AS dan long-range munitions.

Semua elemen yang dirancang strategi militer China untuk exploit AS dalam konfrontasi Taiwan, kini tervalidasi. Kesuksesan Iran melawan AS mem-bolster confidence Beijing.

Negara Teluk Reassesmen Aliansi

Perang memaksa negara-negara Teluk mengevaluasi ulang aliansi keamanan. Awalnya payung keamanan AS dianggap advantage. Kini justru membuat mereka jadi target Iran.

"Apakah negara Teluk akan ganti AS dengan China untuk security guarantees?" tanya Grieco. Menurutnya, negara-negara ini tidak ingin replace satu masalah dengan masalah lain.

Mereka akan lebih strategically independent. China juga tidak terlalu berminat memainkan peran itu. Beijing pintar menghindari entanglement di konflik Timur Tengah.

China di Posisi Menguntungkan

Amerika terbang dengan bendera "we lead the world". China duduk back, quietly leading tanpa making big song and dance. Mereka tidak pay high costs jika gagal.

"Semua pihak kini curry favor dengan Beijing," kata Grieco. Iran datang shore up diplomatic support. AS publicly pressure Beijing jadi constructive actor.

China diposisikan sebagai responsible dan reasonable actor. Promotor kembalinya peace dan stability.

Dampak ke Indo-Pasifik

Perang memperkuat posisi China di Indo-Pasifik. AS expended banyak military capability di Timur Tengah. Munitions dan interceptors yang dipakai kini tidak tersedia untuk contingency Indo-Pasifik.

"Butuh bertahun-tahun rebuild stockpiles itu," ungkap Grieco. Ini melemahkan US deterrence di Indo-Pasifik tahun-tahun mendatang.

Sekutu dan partners AS khawatir. Jika ada Taiwan contingency, apakah mereka juga jadi target serangan China karena host US forces? Filipina sudah express concern ini.

"China bisa exploit ini," kata Grieco. AS semakin dilihat sebagai pihak yang challenge existing order. Spotlight criticism ada di AS, bukan China. Ini creates space untuk Beijing di kawasan.

Pertemuan Trump-Xi: Dinamika Berubah

Trump akan ke Beijing pekan depan. Jika tidak ada framework agreement atau diplomatic solution untuk Timur Tengah, Trump datang mencari bantuan China.

"Itu shifts the dynamic," tegas Grieco. China mungkin offer bantuan, tapi mereka akan minta concessions yang significant.

AS administration distracted. Tidak bisa dihindari. High-stakes summit yang supposed to be very important, kini overshadowed oleh US actions di Timur Tengah.

"Degree to which administration bisa focus preparing for summit ini, pasti reduced," pungkas Grieco. Posisi tawar China menguat.

📊 Poin Kunci: China jadi penengah konflik Iran-AS | Trump-Xi meeting pekan depan di Beijing | AS weakened di Indo-Pasifik | Negara Teluk reassess aliansi | China belajar untuk skenario Taiwan | US stockpiles menipis

Kesimpulan: Tatanan Dunia Baru

Konflik Iran mengakselerasi pergeseran kekuatan global. China emerging sebagai power yang lebih confident. AS terlihat overextended dan distracted.

Negara-negara kawasan mulai mencari strategic independence. Tidak lagi fully rely pada satu kekuatan. Multipolar world order semakin nyata.

Pertemuan Trump-Xi pekan depan akan jadi test penting. Apakah diplomasi bisa meredam eskalasi? Atau konflik akan terus berlanjut dengan konsekuensi global yang lebih luas?

Sumber: DW News - "China, Iran, Trump: A new global power shift?" dengan analisis Kelly Grieco, Senior Fellow di Stimson Center. Artikel disusun secara jurnalistik oleh redaksi.

📰 Berita Terkait

💬 Komentar Pembaca

Tulis Komentar Anda

💬 Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!