Iran Pertimbangkan Proposal AS Akhiri Perang, Trump Ancam Serangan Lebih Ganas

LONDON – Iran sedang mempertimbangkan proposal baru Amerika Serikat untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung 68 hari. Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras. Tehran harus menerima kesepakatan atau menghadapi serangan bom lebih intensif.
Proposal AS & Ultimatum Trump
Pejabat Iran mengonfirmasi sedang mengkaji usulan Washington. Isi proposal masih dirahasiakan. Trump menuntut Iran membuka kembali Selat Hormuz. Blokade strategis itu harus segera diakhiri.
"Mereka akan membuat kesepakatan, satu cara atau lainnya," ujar Trump. Pernyataan disampaikan di hadapan pertemuan militer di Gedung Putih. Ancaman tersirat serangan lanjutan tetap ada.
Respons Iran: Nada Positif tapi Keras
Juru bicara Iran memberikan sinyal beragam. Di satu sisi mengakui sedang meninjau proposal. Di sisi lain menjanjikan respons keras dan menyesatkan.
"Iran tidak akan mendapatkan melalui perang yang gagal, apa yang gagal mereka peroleh dalam negosiasi tatap muka," tegas pejabat Tehran. Bahasa yang digunakan mirip dengan retorika Trump.
Sumber dari Pakistan mengisyaratkan kesepakatan mungkin dekat. Namun kredibilitas informasi sulit diverifikasi. Negosiasi tertutup masih berlangsung di balik layar diplomatik.
Status Selat Hormuz Membingungkan
Project Freedom diumumkan Trump hari Minggu. Operasi kemanusiaan ini bertujuan membantu kapal terjebak di Teluk. Senin, Iran mengklaim kapal perang AS tertembak dua rudal.
Washington membantah keras. AS menyatakan tujuh kapal cepat Iran hancur diserang. Selasa, Menteri Pertahanan Pete Hegseth konfirmasi dua kapal komersial berhasil melintas.
"Jalur sudah jelas. Iran malu," kata Hegseth. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan operasi ofensif AS-Israel selesai. Semua tujuan tercapai.
Namun jam-jam kemudian Trump umumkan Project Freedom dijeda. Jeda singkat untuk memberi ruang negosiasi. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak. Sebelumnya pejabat tinggi AS seharian membahas rencana tersebut.
Peran Mediator Pakistan & China
Pakistan aktif menjadi mediator konflik. Delegasi senior AS dan Iran bertemu langsung. Pertemuan pertama sejak 1979 terlaksana berkat mediasi Islamabad.
China juga disebut berperan. Menteri Luar Negeri Iran berkunjung ke Beijing. Trump dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping pekan depan. Diplomasi tingkat tinggi sedang berjalan intensif.
Dampak Ekonomi: Harga Minyak & Penerbangan
Harga minyak global turun di bawah $100 per barel. Penurunan terjadi setelah laporan kemungkinan kesepakatan. Namun harga masih 40% lebih tinggi dari sebelum perang.
Dampak perang terasa di industri penerbangan. 13.000 penerbangan dibatalkan globally di bulan Mei. Dua juta kursi penerbangan hilang dari jadwal.
Turkish Airlines, Emirates, Lufthansa among yang membatalkan. Pembatalan baru 1% dari total penerbangan global. Beberapa maskapai melakukan perencanaan kontingensi. Mereka mengurangi jadwal di bulan sepi untuk memastikan bahan bakar cukup di musim puncak.
Krisis Bahan Bakar Jet
Harga bahan bakar jet melonjak drastis. Biaya ini mencakup lebih dari seperempat pengeluaran maskapai. Harga lebih dari dua kali lipat dari normal.
Stok yang dipersiapkan sebelumnya tidak cukup. Maskapai mulai menaikkan harga tiket. Beberapa kenaikan mencapai 50% lebih tinggi dari tahun lalu.
"Pelanggan bisa booking dengan percaya diri," kata EasyJet. Pemerintah Inggris urging masyarakat tidak mengubah rencana perjalanan. Namun horizon musim panas masih tidak jelas.
Analisis: Kedua Pihak Ingin Hindari Perang Total
Koresponden Urusan Dunia BBC Paul Adams memberikan assessment. Situasi masih sangat rapuh. Laporan menyebut pasukan AS kembali mencegat kapal Iran hari ini.
"Kedua sisi tidak benar-benar ingin kembali ke perang total," kata Adams. Project Freedom dianggap sebagai langkah terakhir. Teori mempertahankan blokade sendiri sambil menembus blokade Iran tidak berjalan optimal.
Hanya dua kapal berhasil melintas. Iran merespons dengan serangan di laut dan fasilitas minyak UAE. Konsekuensi melanjutkan Project Freedom dinilai terlalu berisiko.
Perjanjian untuk Berbicara tentang Perjanjian
Para ahli di Washington caution tentang isi kesepakatan. Memorandum satu halaman yang beredar di media mungkin hanya mengulur waktu. Masalah teknis seperti stok uranium Iran sangat kompleks.
"Di era Obama, butuh 20 bulan untuk merinci masa depan program nuklir Iran," ungkap sumber. Trump optimis hati-hati. Banyak yang melihat ini sebagai kesepakatan untuk terus bernegosiasi.
"Ini membuka jalan ke perjanjian lebih detail, bukan mengakhiri perang sekali untuk selamanya," jelas koresponden BBC di Washington.
Realitas yang Berubah
Kepercayaan diri Trump yang terdengar di akhir Februari mulai pudar. Perang diluncurkan untuk menghilangkan prospek Iran mendapat senjata nuklir. Kini mungkin berakhir dengan kesepakatan menyelesaikan masalah yang tidak pernah ada.
Blokade Selat Hormuz jadi fokus utama. Iran sedang implementasi rezim baru untuk selat strategis itu. Tidak jelas apakah mereka siap melepaskannya.
Masalah program nuklir Iran mundur ke belakang. AS tidak bisa abandon isu ini. Setiap memorandum harus menempatkan isu nuklir di depan. Trump perlu menjual ini sebagai perbaikan dari kesepakatan nuklir sebelumnya.
Kesimpulan: Diplomasi di Ujung Tanduk
Masalah yang Trump pikir akan selesai dengan kekuatan militer, kini harus diselesaikan dengan diplomasi. Kedua pihak lelah. Tidak ada yang ingin eskalasi berlanjut.
Pertanyaan besar: siapa yang akan berkedip lebih dulu? Atau justru kedua pihak sudah sampai pada kesimpulan yang sama? Perang ini harus berakhir, bukan dengan kemenangan mutlak, tapi dengan kompromi pahit.
Sumber: BBC News - "The Iran War Today: Day 68" & "Iran considering US proposal to end war, official says". Laporan dari koresponden Carrie Davies (Dubai), Berna Bman (Washington), Darini David (Ekonomi), dan Paul Adams (World Affairs). Artikel disusun ulang secara jurnalistik oleh redaksi.
💬 Komentar Pembaca
Tulis Komentar Anda
💬 Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!


